Saturday, February 26, 2011

Cara Memakai Sumpit

Sumpit, alat makan yang sering sekali di gunakan untuk makan masakan Chinese, Japanese dan Korea. Waktu kecil, gue jarang banget memakai sumpit. Kebanyakan jajan di sekolah, roti, kue, permen, choki2, ga ada yang perlu pake sumpit. Di rumah juga kebanyakan memakai sendok garpu. Waktu belajar memakai sumpit, gue asal asalan saja meniru. Pokonya makanan terangkat dari piring ke mulut, nyampe ke perut done..!!! Efek nya sampe gue besar, gue memakai sumpit dengan cara yang salah. Tadinya gue ga pusink hal tersebut. Sebodo amat deh cara pakai sumpit. Toh yang penting perut kenyang.
Sampai suatu saat, gue lagi makan bareng teman gue, bernama MK di Sushi Tei. Dan gue berencana menyomot salmon sushi yang terletak agak jauh di pinggir meja. Tiba2 MK berseru " Awas hati hati, aduh serem gue liat lo pegang sumpit, ga bisa pake sumpit ya? Nanti bisa bisa mental kena gue. ".
Kemudian hari berikutnya gue makan bareng teman gue LL yang sudah menikah, tiba tiba muncul topic " Kiaw Sheng ". LL bercerita kalo mertuanya menyebut dirinya " Kiaw Sheng / Kiauw Seng ". Apa itu " Kiaw Sheng "? Sebutan untuk orang keturunan China yang tidak bisa berbahasa Chinese, tidak begitu menyukai masakan Chinese dan ga mengerti tata krama ala Chinese. Saat itu juga gue sadar... Berarti gue termasuk " Kiaw Sheng " donk? Pake sumpit aza ga becus. Sedikit malu juga sih, bule aja bisa pakai sumpit dengan benar.

Sejak saat itu.. Gue di rumah berlatih memakai sumpit dengan benar. Awalnya sih geregetan juga, sempet mikir, kayanya uda ga bisa.. Karena uda kebiasaan dengan cara yang salah. Sulit untuk mengubah kelenturan jari. Setiap hari makan apa pun gue paksain berlatih pake sumpit dengan cara yang benar. Makan padang pake sumpit, gado2 pake sumpit, roti gue potong2, makan pake sumpit, kalo perlu makan cemilan pisang goreng atau pun getuk lindri, gue pake sumpit hahahaha.
Practice make Perfect kan? Akhirnya kurang lebih 2 minggu, ada kemajuan!!!! Gue berhasil menggunakan sumpit dengan benar dan stabil. Hikssss terharu.... Dan sampai sekarang gue bangga atas kesuksesan gue belajar pakai sumpit wkwkwkwk. Jadi buat yang mo belajar pake sumpit, jangan menyerah, pasti bisa!!! Biar makin di sayang mertua juga hihihihi.

Berikut panduan belajar memakai sumpit :

1. Sumpit A di Jepit di lekukan jempol dan telunjuk sampai mentok, sisi lain nya di atas tumpukan jari kelingking dan jari manis.
2. Sumpit B di taruh di atas lekukan jari tengah, dan dibawah antara jari telunjuk dan jempol. Seperti memegang alat tulis.
3. Sumpit A tidak bergerak, yang berfungsi bergerak untuk menjepit adalah sumpit B. Digerakan dengan jari tengah dan jari telunjuk. Seperti video berikut :

video
4. Sejajarkan ujung sumpit sebelum mengunakannya.
5. Jangan memegang sumpit di posisi terlalu rendah atau terlalu ujung.
6. Bila hendak mengambil makanan yang berat, jepit sumpit dengan posisi tegak lurus sampai ujung sumpit menyentak piring, kemudian jepit dan angkat dengan mengayunkan sumpit seperti gaya menyendok.
7. Lebih baik berlatih mengunakan sumpit terbuat dari bambu yang ringan, sumpit yang terbuat dari besi akan lebih berat, dan lebih sulit digunakan. Berlatih dengan mengangkat makanan yang ringan terlebih dahulu.

Tata krama atau etiket menggunakan sumpit:
Begitulah kira kira rumus memegang sumpit, selamat mencoba...

5 comments:

  1. Thank you, terima kasih, 谢谢

    It's really helpful :))

    ReplyDelete
  2. ur welcome, kembali, 不客气 hahahahahaha..
    tengkyu juga non comment nya ^_^

    ReplyDelete
  3. Saya masuk ke situs ini awalnya bukan karena ingin cari tahu tentang makanan tetapi penasaran dengan arti kata "kiauw seng". Waktu saya ketik kata kunci ini di google.com, muncullah situs Anda (dan juga beberapa situs lain). Dari situs ini, saya dapat petunjuk awal bahwa "kiauw seng" berarti peranakan. Setelah dicari lebih teliti, saya mendapatkan tahu ternyata kata ini berasal dari bahasa Mandarin 侨生 (qiao-sheng) atau overseas-born. Jadi, sebenarnya anak-anak yang lahir di luar Cina daratan - walaupun papa-mamanya totok - juga tergolong "kiauw seng." Tapi tampaknya sudah terjadi salah kaprah yang luas sehingga "kiauw seng" diartikan peranakan, versus "singkheh" atau "totok."

    Saya membaca artikel ini dan merasa sangat tertarik dengan cara Chinese Herb untuk mengurai kembali identitas dirinya sebagai Tionghoa peranakan melalui makanan. Artikel ini sangaaatttt menarik :-)

    Sedikit masukan dari saya adalah tentang nama dari blog ini "Surrounded by sexy food." Sebagai seorang perempuan, saya merasa makanan-makanan yang ditayangkan di sini jauh dari sexy. Pemberian label "sexy" juga sudah salah kaprah sehingga tanpa disadari turut merendahkan harkat perempuan. Ini terjadi juga dalam berbagai iklan: yang dijual mobil, tapi yang dipampangkan perempuan sexy dengan bikini. Akhirnya, secara bawah sadar masyarakat mengambil persepsi "perempuan = barang dagangan."

    Masih banyak label lain yang lebih sesuai dan juga menarik, seperti "delicious", "yummy" atau "tasty". Mungkin pilihan ini tidak sebombastis "sexy" tapi setidaknya kita tidak turut melanggengkan pelecehan terhadap perempuan. Terima kasih untuk artikelnya yang menarik, Anda berbakat untuk menjadi penulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Evi, terimakasih sudah meluangkan waktu memberikan saran yang membangun. Senang sekali ada yang memberikan pendapatnya mengenai blog ini. Berarti ada juga yang baca ya? ;D
      Buat saya kata sexy hanya adjective yang mendeskripsikan sesuatu yang menarik, attractive, exciting. Sesuatu yang menarik dan Wow. Tidak bermaksud untuk merendahkan wanita (karena saya sendiri juga wanita) ,tapi bagaimana saya dapat menarik orang untuk membaca artikel ini. Saya setuju sekali untuk tidak melecehkan wanita dengan kata sexy. Bukan sebuah label. Bukan sebuah objek. Dan tidak bermaksud menyinggung wanita. Terima kasih untuk masukan nya, sungguh appreciate it :)

      Delete
    2. Jujur nih, saya sebenarnya pengen banget share blog ini di kalangan teman2 saya. Menurut saya, menelusur kembali identitas diri melalui keseharian (makanan - salah satunya) adalah isu yang asyik & dapat mencerahkan banyak orang. Makanan adalah isu yg relatif mudah diterima. Orang Tionghoa banyak mengalami kendala untuk masuk ke politik (liat aja si Ahok yg banyak menuai sindiran karena kecinaannya) tapi makanan Tionghoa sebenarnya merasuk dalam kehidupan harian masyarakat tanpa masalah (tentunya dengan dimodifikasi jadi halal), kayak tahu, kecap asin, bakso, bakmi, pangsit, dst.

      Sayang banget, niat saya share terkendala dengan nama blog ini. Sejak tahun 1996, saya terlibat gerakan untuk memajukan hak-hak perempuan Indonesia, jadi saya nggak mungkin mempromosikan sesuatu yang secara value bertentangan dengan apa yang saya impikan.

      Juga, setelah saya baca beberapa tulisan lainnya, saya temukan juga komentar tentang "Bornga (not born gay)." Walaupun saya pribadi bukan gay, saya melihat penderitaan kaum LGBT secara langsung (dulu saya kerja sebagai konselor). Sekarang saya tinggal di Belanda & 2 bulan lalu seorang remaja gay umur 14 tahun bunuh diri karena diejek terus oleh kawan-kawannya. "My life is fantastic but I must leave" begitu pesannya pada ortunya. Saya benar2 nggak tega menjadikan mereka sebagai lucu-lucuan.

      Saya dapat menebak Chinese Herb tak bermaksud melecehkan perempuan atau kaum LGBT. Namun, akan lebih baik kalau dalam menulis kita juga menyadari value2 terpendam di balik kata-kata. Menurut saya, Chinese Herb adalah seorang penulis berbakat. Tulisan-tulisannya hidup & detail. Benar-benar bikin ngiler utk ngicipin makanan yang dipromosikan, apalagi saya jauh & kedinginan :-) Jangan berhenti menulis ya (tentu ditambah dg kesadaran yg makin tinggi...). Salam kompak!

      Delete