Thursday, January 20, 2011

Shihlin dan Quickly

Snack asal dari Taiwan yang gue doyan Shihlin and Quickly.... Yummmm.. Temen gue rata rata ketagihan ama Shihlin chicken yang pedes dan renyah, Bubble Tea manis dan kenyal...pasangan snack yg serasi. Setelah makan Shihlin yang pedas dan asin, enaknya minum Quickly yg manis. Pearl Jasmine Milk Tea favorite gue. 
Din2 n gue pernah nyeludupin masing masing sekantong chicken size XL nya masuk bioskop, sambil men japit japit dalam kegelapan. Nikmat...!!! Dibarengi nyeludupin Quickly bubble tea yang rasa Taro kesukaan Din2. Nonton sambil makan minum enakkkkkk banget deh.....
Berikut tips nyeludupin kedua snack ini ke dalam bioskop: 
Beli Shihlin terlebih dahulu, karena lama buatnya perlu digoreng dan dibumbui. 
Setelah pesan segera beranjak ke Quickly bubble tea. Bubble tea gelasnya nya tersegel rapat jadi tak perlu takut tumpah, ambil sedotan besarnya dan minta plastic agar tas tidak basah karena dinginnya Bubble tea. 
Ambil pesanan Shihlin yang masih panas angin anginkan sejenak, kemudian taruh semuanya didalam tas yg agak besar sebelum masuk ke bioskop. 
Tarik nafas , tenteng tas disebelah yang berlawanan dengan posisi satpam di pintu bioskop, tenangkan pikiran, dan berjalan santai, sambil sibuk mengobrol dengan teman. Biasanya sih dengan cara ini lolos hahaha.. Telah sering di coba di bioskop 21 emporium pluit...Ahhhh jadi pingin ke Taiwan makan aslinya hahaha.

Tuesday, January 18, 2011

Cara Menggodok Obat Chinese Herbal

Bagaimana cara menggodok obat chinese herbal?
(How is a herbal decoction prepared?)
1. Tuang bahan obat herbal kedalam panci stainless, panci keramik, maupun panci tanah liat (panci apa saja boleh kecuali panci alumunium). Tuang air kedalam panci kurang lebih 3 gelas atau sampai obat terendam, kurang lebih 1-2 cm diatas permukaan obat. Rendam obat kira kira 20 menit sampai 1 jam.
(Put the dry, crude herbs in an earthenware or stainless steel pot (avoid include cast iron and aluminium), pour cold water in the pot until the water is 1–2 cm above the herbs, and let the dry, crude herbs soak in the water for at least 1 hour.)
2. Masak obat dengan api besar.
(Afterwards, place the pot on the fire, heating with a strong flame.)
 

3.  Masak sampai mendidih, kemudian kecilkan apinya, masak kurang lebih 20 menit atau sampai air tersisa kurang lebih 1 gelas.
(When the liquid is boiling, turn the heat down to gentle, cook the herbs for 20 minutes or cook the herb until the liquid is one mug remains.)
 


4. Setelah obat selesai dimasak. Saring obat dan tuang ke dalam gelas.
(Strain the decoction from the pot.)
 

 

5. Jangan buang sisa obat, tuang kembali sekitar 3 gelas air, masak kembali obat dengan cara yang sama. Saring kemudian gabungkan godokkan pertama dan kedua, aduk rata, kemudian bagi kembali ke dua gelas. Obat dapat diminum 2 x : pagi dan sore hari. Hangatkan bila hendak diminum.
(Pour another cold water onto the herbs in the pot and repeat the above cooking method : bring to boil, and then simmer again for another 20 minutes until about one mug of liquid remains. Strain this decoction and then mix the two decoctions together. Finally, divide the decoction into two portions, and drink each portion warmed over the course of the day in two lots.)

Beberapa macam obat yang mahal biasanya dibungkus terpisah, contoh : Hong hua (红花/saffron crocus), ada juga yang berbentuk bubuk yang dibungkus terpisah karena tidak dimasak, contoh : Tian Qi Fen (田七粉), ada pula yang berbentuk gel dan sirup seperti E Jiao (阿胶) yang di aduk bersama godokan obat yang telah selesai dimasak.
Some rare, expensive herbs, such as Hong Hua should be prepared separately. Herbs that are traditionally used in powder form should be added to the prepared decoction without cooking; an example is San Qi (Notoginseng radix) powder. Gels and syrups such as E Jiao (Asini coriicolla), Yi Tang (Maltose) and honey, as well as egg yolks, should also be dissolved in the prepared decoction without cooking.

Monday, January 17, 2011

Antara Warung Ubud, Leko dan Tekko

Dua kali gue makan ke restaurant Warung Ubud yg terletak di : Ruko Cordoba Blok G no: 2 Pantai Indah Kapuk, dua kali pengalaman yang berbeda....
Pertama kali gue ke Warung Ubud, gue menikmati Iga Babi Bakar size large nya (Rp 72.000... dapet 8 slabs!!!) yang empuk dan lezat dan gue pilih makan dengan nasi. Cumi Goreng Tepung nya renyah, Babi Panggang yang not so bad, Udang Goreng Telor Asin (sori potonya sambil makan jadi blur deh) ok laaa. Kesan pertama yang amat baik, terutama terhadap iga babi-nya, porsi besar dengan harga murah. Dapat mengobati 70% rasa kangen kepada iga babi Tony Romas tanpa menguras isi dompet.

Puas dengan pengalaman pertama membuat gue terpanggil kembali mengunjungi restaurant ini untuk kedua kalinya. Pengalaman kedua, gue kembali memesan 2 piring Iga Babi Bakar size large dengan french fries, sepiring Nachos, dan sosis sapi berbentuk U namanya Thur...(apa ya..lupa) Sosis. Tak lama kemudian pelayan mengabarkan kalau iga babi bakar size large habis, hanya tinggal size medium. Gue melihat keadaan restaurant yang cukup ramai mengerti dan tak keberatan. Selang 5 menit pelayan datang kembali menginformasikan bahwa size Large nya ada, hanya tinggal 1. Gue bilang ok bagus size large 1. Tak sampai 5 menit pelayan kembali datang.... Meng-confirm kalo size large habis, size medium hanya tinggal 1. Tarik napas panjang, gue bilang ok lah ga masalah. Size medium 1.
Kebetulan gue pesan Heineken botol besar, dan datang beserta gelas berisi es batu. Segera gue tuang Heineken kedalam gelas.... Dan nampak 3 lalat kecil mengapung di atas gelas...
Segera gue panggil pelayan dan mejelaskan situasi. Pelayan mengangkat gelas berisi beer dan lalat...... Dan kembali dengan gelas berisi beer tanpa es batu, dan tinggal setengah... Gue bingung...
Apa itu maksudnya? Jadi es serta lalat dibuang dan dikembalikan ke gue? Jadi gue disuru minum beer bekas lalat mengapung? Bahkan pelayan tidak mengucapkan maaf atas ketidaknyamanan adanya lalat yg mengambang... Mau pun mengganti Heineken yang terbuang percuma. Apalagi memberi complimentary????
Gue kembali memanggil pelayan yang sama, menanyakan padanya apa maksud dari dikembalikannya gelas ini? Pelayan bertampang bingung dan mengangkat kembali gelasnya dan mengganti gelas tersebut dengan gelas kosong tanpa es. Dan pergi tanpa mengucapkan kata maaf. Sungguh sungguh service yang amat parah. Pelayan yang tak mengerti sopan santun, ato karena memang disana tidak ada manager maupun owner yang mengawasi. Sungguh membuat kecewa. Image iga babi bakar yang enak dan mengesankan... Hancur dengan kebersihan yg kurang terjaga serta service yang sorry to say, Suckssss!!! Tak lama nachos pesanan pun datang.. Rasanya pun biasa biasa saja.. Iga babi bakar size medium pun menyusul (masi enak dimakan) beserta kentang goreng kurus yang sudah dingin. Sosis sapi berbentuk U dengan salad sebagai side dish juga tak memuaskan. Hanya seperti sosis sapi biasa, tak mengesankan dan salad yang kurang menggiurkan.

Saran gue kalo ke Warung Ubud :
1. Pesan iga babi bakar size large saja. Itu yang paling enak!!!
2. Lebih baik pesan dengan nasi, kecuali doyan kentang goreng kurus kering porsi kecil, dan bersedia dapat yang agak dingin dan sedikit gosong.
3. Bawa gelas sendiri, karena mungkin saja mendapat bonus sprinkle lalat untuk cia po. Atau sebelum menuang minuman perhatikan isi gelas baik baik.
4.Sebaiknya jangan berkunjung di saat restaurant ramai karena bakal dicuekin berkali kali. Meja kotor belum dibersihkan. Duduk lama menunggu pelayan datang membawa menu.
Sesama pedagang tentunya gue juga mengerti, sulit sekali mangatur pelayan yang kurang berpengalaman. Semoga owner restaurant bisa memperbaiki dengan mendidik pelayan dalam hal sopan santun. Lebih baik lagi kalau hire a manager.

Setelah makan karena belum kenyang, mungkin makan sambil kesal sehingga masi lapar, akhirnya gue mampir ke restaurant sebelah kiri nya Ubud, masih di deretan Ruko Cordoba PIK, yaitu Warung Leko, pioneer iga penyet sapi. Ketidaknyamanan yang gue dapat dari Warung Ubud terobati dengan pelayanan Leko yang memuaskan serta makanan yang cukup lezat. Gue pesan Iga Sapi Penyet Otot dengan nasi dan sepiring Karedok.

Jujur gue pernah coba makan di warung Tekko, yang juga terletak tidak jauh dari sana, secara temen gue ada yang naksir dengan manager cewe-nya Tekko (hahahaha....hayoooo ada yg blushing).
 Iga sapi penyet dari Tekko


Dan menurut gue Leko jauh lebih enak daripada Tekko. Menurut gue Leko lebih bersih, meja gue sudah dibersihkan, sedangkan ketika ke Tekko meja masi banyak yang belum dibersihkan dan ada tulang iga di meja bekas orang sebelumnya. Suasana nya tak jauh berbeda, karena hanya berbeda beberapa ruko, tapi Leko lebih sedikit bagus karena terdapat hiasan lampu lampu di atas jadi lebih romantis?

Mengenai makanan, Leko dan Tekko hampir mirip, cara penyajian dan rasa, tergantung selera masing masing, gue sendiri lebih suka Leko dan beberapa temen gue lebih suka Tekko. Leko buat gue rasa dagingnya lebih enak. Dan seinget gue di Tekko ga ada taburan bawang goreng apa ditabur di atas cabenya ya? Di Leko di tabur di atas iganya.... seperti di photo. Oh oh...beda mejanya juga hihihi...menurut gue meja di Leko lebih enak karena terbuat dari keramik atasnya hahahaha. Sayangnya gue mungkin kurang cocok dengan iga sapi penyet khas Indonesia ini. Terlalu asin untuk lidah gue. Berkali kali gue mencoba, baik di Tekko maupun Leko buat gue dua dua nya terlalu asin. Bahkan setelah gue gabungin dengan nasi yang banyak serta karedok yang manis, hasilnya gue selalu merasa terlalu asin. Dan setelah makan merasa haus. Hahahaha selera deh yaaa... Mungkin lidah gue yang terlalu sensitive. Tapi gue puas dengan karedok Leko. Akhirnya setelah perut full gue pulang kerumah dan tadinya rencana ngemil 2 batang godiva...ga tau nya malah menghabiskan 1 kotak coklat godiva hahahahaha... Rakus!
 
Update:
Warung Ubud menerima kritikan dengan baik...lihat aza comment dibawah, ternyata mereka peduli juga ya pendapat customernya. Jadi semakin yahud deh makan iga bakar babi nya .....Yupppieeeee~!!!!Mari mampir ke warung ubud para pork lover....

Tuesday, January 4, 2011

Martabak attack!!!

Hari minggu kemarin, gue ngidam martabak, dari pagi pagi sampe selesai makan siang, masi juga mikirin martabak. Akhirnya pergi lah gue demi ngemil martabak di sore hari . Begitu banyak tempat yang menjual martabak, ada yang lebih dekat rumah juga, tapi gue ngincer martabak Bandung Jaya, berlokasi di daerah Pluit, belok dari Dunia Buah lurus terus sambil nengok ke kiri. 
Jadi lah gue memborong 3 loyang martabak.
Yeapppp betul 3 loyang!!!! Ga tanggung tanggung kan.... gue super yakin cholestrol dan gula gue hari itu langsung tinggi. Dan untuk rekor... gue pernah ngabisin 1 loyang besar martabak manis sendirian dalam 1 jam saja.... luar biasa rakus yaaa... Tapi kali ini gue ga makan sendirian kok untuk sekeluarga... 
Gue beli 3 macam : martabak telor bebek special daging sapi, martabak manis keju stengah dan kacang coklat wijen stengah, dan martabak tipis kering isi keju. Silahkan menikmati martabak nya 2D hihihihi...
Mas jago bikin pizza juga kali ya...
 Mas ini lagi goreng sambil ngapain to mas???
Martabak manis dibikin.......
 Wew rame antrian...
Asik gue punya uda selesai wooohoooo...
Daftar Harga martabak.
Tadaaaaaaa.... martabak telor bebek special isi daging sapi, kira kira 12 pieces, ada acar dan saos nya yang gue lupa poto....
Martabak tipis kering isi keju manis banget....!!!
Sori rada blur...tapi kerasa kan nikmatnya?
Isi kacang coklat ama wijen...paling yummmmmmmmm.
Martabak manis isi keju enak juga...
Selamat Menikmati...Oh ya, selain itu kalo beli martabak di Bandung jaya bisa telpon terlebih dahulu selama di perjalanan ,jadi sampai disana sudah siap tinggal di ambil tanpa perlu menunggu lama. Selain itu martabak ini sudah buka dari jam 3 siang.

Bandung jaya
Jl Pluit Sakti Raya no. 75
021-6693607

Kehidupan selama dua tahun perkawinan

Tidak terasa, tau tau sudah 2 tahun menikah. Rasanya baru kemarin hihihihi. Jadi bagaimana perjalanan 2 tahun ini? Bahagia banget, bahk...